Peningkatan Kompetensi Komunikasi Antar Pribadi Pada Tenaga Kesehatan Dalam Rangka Menjamin Pelayanan Yang Berpusat Pada Pasien (Patient-Centered Care)

Makassar – Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) Kesehatan dengan difasilitasi Sekretariat KTKI menggelar kegiatan Penguatan Keterampilan Keprofesian Tenaga Kesehatan dengan Tema ”Peningkatan Kompetensi Komunikasi Antar Pribadi Pada Tenaga Kesehatan Dalam Rangka Menjamin Pelayanan Yang Berpusat Pada Pasien (Patient-Centered Care)”. Acara tersebut bertempat di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar dan berlangsung selama 3 hari, yakni 5 – 7 September 2024. Kegiatan yang
melibatkan banyak ragam tenaga kesehatan ini dibuka oleh Laporan Penyelenggaraan yang dibacakan oleh Ketua Tim Pembinaan Tenaga Kesehatan KTKI, Laila Nur Rokhmah. Dilanjutkan dengan Sambutan dari Kepala BBPK Makassar yang dalam hal ini diwakili oleh Irwan Baharuddin selaku Ketua Tim Kerja Pelatihan Manajemen dan Teknis Non Kesehatan. Tidak berhenti disitu, terdapat pula sambutan dari wakil ketua KTKI, Suhartati, yang di dalamnya menegaskan bahwa “Begitu menghadapi pasien masuk, pada kondisi sakit, stress-nya pasti kalo diukur ada skalanya. Oleh karenanya komunikasi ini tidak hanya verbal
tapi juga non verbal, gestur kita dan sikap kita menggambarkan komunikasi non verbal yang harus kita laksanakan dan Bapak Ibu harus bisa mengimplementasikan berbagai teori komunikasi kepada pasien,”, ujar Suhartati dalam sambutannya.
Garis besar dari giat kali ini adalah untuk meningkatkan keterampilan keprofesian Tenaga Kesehatan dalam memberikan layanan yang bermutu melalui kemampuan melakukan komunikasi yang interaktif, efektif, empatik, dan terapeutik sehingga terbangun hubungan yang kuat antar tenaga kesehatan dan pasien. Hal ini sebagaimana tercantum dalam UU Kesehatan Pasal 269 UU 17 tahun 2023, dimana Konsil harus melakukan pembinaan teknis keprofesian tenaga medis dan tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab dalam penjagaan dan penguatan kompetensi sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat.
Selain memberikan sambutan, Wakil Ketua Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia, Suhartati turut memberikan materi terkait komunikasi. “Pentingnya menjamin kapasitas bapak ibu sekalian melalui 4 domain, diantaranya E-learning, Penguatan Keterampilan Keprofesian, Webinar dan Evaluasi kemampuan. Dalam sesi materi selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Selatan, Ishaq Iskandar membawakan materi yang menekankan pada sinergi kebijakan Dinkes Provinsi dalam pemberdayaan pasien, keluarga dan masyarakat melalui komunikasi, informasi dan edukasi dengan komunikasi antar pribadi dan perilaku yang dirasa sangat penting dalam transformasi kesehatan karena berkaitan dengan kebijakan dan strategi kesehatan masyarakat. Hadir pula dalam kesempatan sesi ini
Sitti Murdiana Muin seorang Psikolog Klinis yang membahas pentingnya komunikasi empatik dalam pelayanan kesehatan. Sesi hari pertama ditutup dengan materi dari Hermawan Saputra, dosen UHAMKA yang menggaris bawahi bagaimana seorang tenaga kesehatan melakukan komunikasi efektif untuk layanan kesehatan.
Pelaksanaan kegiatan ini di hadiri oleh berbagai partisipan, diantaranya 200 orang hadir secara luring, 5.994 orang melalui Plataran Sehat, 732 orang melalui zoom meeting dan 1.018 orang melalui platform YouTube.
Pada hari kedua, sebelum ke 200 peserta dibagi ke dalam tujuh kelas berbeda, terlebih dahulu diberikan materi penguatan untuk membangun hubungan yang kuat antara tenaga kesehatan dengan pasien, keluarga dan masyarakat (metode dan simulasi penerapan KAP) oleh Andi Sari Bunga Untung selaku Wakil Ketua Konsil Kesehatan Masyarakat. Untuk membantu peserta lebih fokus pada penguatan sesuai dengan profesinya, maka di hari kedua, para peserta dibagi ke dalam tujuh kelas kecil, yakni Kelas Psikologi Klinis, Kelas Tenaga Kesehatan Masyarakat, Kelas Teknis Pelayanan Darah, Kelas Optometris, Kelas Audiologis, Kelas Teknisi Gigi dan Kelas Nakestrad Interkontinental.
Menjelang sore, para peserta dikumpulkan kembali di dalam aula besar untuk menampilkan paparan sebagai perwakilan setiap kelasnya. Inti dari setiap paparan tersebut harus mengutamakan peran komunikasi dalam fungsi masing-masing profesi.
Sebagai pamungkas, Robert Oloan Rajaguguk selaku Kepala Divisi Keprofesian Konsil Psikolog Klinis memberikan rangkuman dalam format kesimpulan dari terselenggaranya giat Penguatan Keterampilan Keprofesian Tenaga Kesehatan tersebut.
Dijelaskan bahwa komunikasi antar pribadi pada tenaga kesehatan perlu dilakukan dalam berbagai situasi dan tahapan pelayanan. Di dalamnya terdapat manfaat diantaranya;
1. Membangun hubungan yang baik dengan pasien dan keluarga
2. Menggali informasi dari pasien
3. Menyampaikan informasi kepada sejawat, atasan dan keluarga
4. Memberikan rekomendasi penanganan
5. Melakukan intervensi yang aktif
6. Memberikan dorongan untuk pulih
7. Melakukan kolaborasi antar profesi
8. Melakukan edukasi kepada masyarakat
Demi menandakan berakhirnya giat workshop yang menandai pentingnya terapan komunikasi dalam dunia layanan kesehatan ini, maka Hanafi yang bertindak sebagai Koordinator Komisi Pembinaan Keprofesian KTKI menutup dengan menyelipkan beberapa pesan khusus kepada peserta, untuk selalu menggunakan komunikasi sebagai alat yang memiliki peran penting untuk dapat mencapai interaksi yang baik dengan pasien.
Seleksi Kolegium Kolegium Kesehatan Indonesia
Penyusunan Bezetting dan Formasi ASN Tahun 2024 di Lingkungan Ditjen Nakes
AKSELARASI PEMENUHAN KEBUTUHAN DOKTER SPESIALIS MELALUI PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS (PPDS) BERBASIS RUMAH...