Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, KOICA, dan UNFPA Meluncurkan SPEED untuk Pendidikan Kebidanan dan Menurunkan Angka Kematian Ibu
Direktorat Jenderal SDMK Kementerian Kesehatan Bersama KOICA dan UNFPA meluncurkan SPEED untuk Pendidikan kebidanan dan menurunkan angka kematian ibu di Indonesia (9/7) di Auditorium dr. Herman Susilo, MPH. Peluncuran SPEED “Strengthening Professional Education and Enhanced Policy Framework for Midwifery Development in Indonesia (SPEED). ” Inisiatif ini merupakan komitmen strategis untuk mentransformasi kualitas pendidikan kebidanan dan penyediaan layanan klinis, memastikan bahwa setiap persalinan di Indonesia ditangani oleh bidan yang sepenuhnya kompeten untuk menangani keadaan darurat obstetri yang menyelamatkan jiwa” hadir dalam peluncuran tersebut Yuli Farianti Direktur Jenderal SDM Kesehatan, Hassan Mohtashami Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Kim Hyo Jin, Country Director KOICA Indonesia Office, Anna Kurniati Direktur Penyediaan SDMK.
Tahun 2029, Pemerintah berkomitmen menurunkan angka kematian ibu menjadi kurang dari 77/100. 000 kelahiran hidup per tahun. Untuk mencapai target tersebut, penguatan kompetensi bidan menjadi sangat penting. Kami meyakini bahwa investasi pada pendidikan bidan merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Bidan yang kompeten akan berkontribusi langsung dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, sekaligus memperkuat sistem kesehatan Indonesia. Melalui kemitraan antara Kementerian Kesehatan, KOICA, dan UNFPA, kami berharap penguatan pendidikan profesi kebidanan dapat menjadi tonggak penting dalam meningkatkan mutu dan profesionalisme bidan Indonesia, sehingga setiap ibu, di mana pun berada, memperoleh pelayanan yang aman, berkualitas, dan berkesinambungan”, kata Ibu Yuli Farianti, Direktur Jenderal SDM Kesehatan.
Proyek SPEED menjawab masalah inti kompetensi kebidanan dengan berfokus pada dua pilar: mereformasi pendidikan pra-jabatan di 12 Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan agar memenuhi standar internasional yang ditetapkan oleh International Confederation of Midwives (ICM), serta membangun platform nasional digital untuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Sistem ini akan membekali bidan dengan keterampilan penting yang menyelamatkan jiwa, termasuk Penanganan Gawat Darurat Obstetri dan Bayi Baru Lahir (PONEK) serta respons terhadap kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan (KTP/AP). Hal ini memastikan tenaga kerja bidan nasional yang berjumlah lebih dari 358.892 orang didukung, diperbarui, dan siap memberikan layanan yang memenuhi tolok ukur global
Proyek SPEED yang akan berlangsung hingga tahun 2030 ini ditargetkan memberikan manfaat langsung kepada sekitar 8.280 mahasiswa dan instruktur kebidanan, sekaligus secara tidak langsung mendukung kesejahteraan jutaan keluarga di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Tujuan proyek SPEED adalah memperkuat 12 Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar menjadi acuan nasional bagi pendidikan kebidanan yang berkualitas. Penguatan ini didorong oleh reformasi menyeluruh terhadap program pembelajaran guna memastikan program-program tersebut memenuhi standar internasional yang ketat yang ditetapkan oleh Konfederasi Kebidanan Internasional (ICM). Dengan memperkuat Poltekkes hingga mencapai standar global dan membentuk kelompok ahli yang terspesialisasi, Poltekkes akan memelopori transformasi layanan kesehatan ibu secara nasional. (red/hlg)
