Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Cegah Stunting dan TB Menuju Indonesia Emas 2045
Kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Dalam Rangka Cegah Stunting dan TB Menuju Indonesia Emas 2045 di Tulungagung 3-5 Juli 2026.
Tulungagung – Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (Ditjen SDMK) Kementerian Kesehatan RI Bersama ANggota DPR Komisi XI kembali melaksanakan kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) melalui sosialisasi Pencegahan Tuberkulosis (TBC) dan Stunting di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam pencegahan penyakit menular dan perbaikan status gizi masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kampus UIN SATU Tulungagung tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, legislatif, organisasi kemasyarakatan, tenaga kesehatan, akademisi, serta masyarakat. Hadir serta Ir. Heru Tjahjono, Anggota DPR RI. Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, Linia Tuddiana, S.Gz., M.K.M. Bersama narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr Desi Lusiana Wardhani, yang menyampaikan materi mengenai pencegahan Tuberkulosis dan stunting. Turut hadir pula Leman Dwi Prasetya, S.E., Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung dari Fraksi Golkar, Dra. Hj. Miftahurahmah, M.Ag., Ketua Muslimat NU Kabupaten Tulungagung.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular dengan jumlah kasus yang tinggi di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis tersebut menular melalui percikan udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengenali gejala sejak dini, seperti batuk selama dua minggu atau lebih, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, hingga berkeringat pada malam hari.
Pentingnya deteksi dini, peserta diberikan pemahaman mengenai faktor risiko penularan TBC, penyandang HIV, penderita diabetes melitus, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat dengan ventilasi yang kurang baik. Kepatuhan dalam menjalani pengobatan hingga tuntas serta dukungan keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) juga menjadi pesan utama dalam upaya memutus rantai penularan.
Pada sesi berikutnya, Masyarakat diajak memahami pentingnya pemenuhan gizi seimbang, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi, menjaga sanitasi lingkungan, serta melakukan pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin sebagai langkah pencegahan stunting.
Menariknya, dalam kegiatan ini juga dijelaskan hubungan erat antara stunting dan Tuberkulosis. Individu dengan status gizi kurang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih rentan terinfeksi TBC. Sebaliknya, infeksi TBC yang tidak tertangani dengan baik dapat memperburuk kondisi gizi dan menghambat pertumbuhan anak. Oleh sebab itu, upaya pencegahan kedua permasalahan kesehatan tersebut perlu dilakukan secara terpadu melalui peningkatan gizi masyarakat, deteksi dini penyakit, pengobatan yang optimal, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab, faktor risiko, gejala, pencegahan, dan penanganan Tuberkulosis maupun stunting. Kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, legislatif, organisasi kemasyarakatan, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kegiatan GERMAS di UIN SATU Tulungagung diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih aktif menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta mendukung upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis dan penurunan prevalensi stunting di Indonesia.
